Penilaian Kondisi Tinggalan Budaya Maritim dalam Kegiatan Pra-Konservasi di Dermaga Willunga

Authors

  • Ashar Murdihastomo Pusat Penelitian Arkeologi Nasional
  • Rizka Purnamasari Balai Arkeologi Yogyakarta

DOI:

https://doi.org/10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v14i1.234

Keywords:

tinggalan maritim, penilaian pra-- konservasi, dermaga Willunga, konservasi aktif

Abstract

Bekas dermaga Willunga merupakan tinggalan budaya yang penting bagi masyarakat di Australia Selatan mengingat memiliki peran krusial dalam perekonomian daerah. Objek tinggalan budaya tersebut pada saat ini hanya tinggal bekas tiang penyangga dermaga dan perlu untuk dijaga kelestariannya mengingat lokasi dermaga pada saat ini telah menjadi salah satu daerah tujuan wisata yang dapat memberikan dampak buruk bagi keberlanjutan tinggalan budaya. Oleh karena itu, salah satu upaya yang dilakukan dalam melindungi objek tersebut adalah dengan melakukan upaya konservasi yang didahului oleh aktivitas pra konservasi yaitu penilaian kondisi objek. Terkait dengan hal tersebut, maka permasalahan yang diangkat pada artikel ini adalah sejauh mana kondisi tinggalan budaya bekas dermaga di Willunga berdasarkan pada penilaian kondisi pra konservasi. Tujuan dari penulisan artikel ini adalah memberikan gambaran lengkap tentang penanganan tinggalan budaya dan langkah-langkah yang ditempuh dalam kegiatan konservasi khususnya aktivitas pra konservasi. Dalam upaya menjawab pertanyaan tersebut dilakukan pengambilan data melalui beberapa alat. Pertama, penggambilan data lingkungan menggunakan datalogger, pengambilan data pelapukan kayu melalui alat pilodyn, dan pengambilan data korosi besi menggunakan pH dan Eh meter. Kedua, data yang sudah diperoleh kemudian dianalisis menggunakan bantuan dari data sekunder (pustaka) dan penggunaan diagram dan tabel pourbaix. Hasil yang diperoleh dari kajian tersebut menyimpulkan bahwa kondisi tinggalan budaya di bekas dermaga Willunga mengalami degradasi yang diakibatkan oleh faktor lingkungan. Hasil tersebut kemudian dapat dijadikan acuan dalam melakukan aktivitas konservasi aktif.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Anna, Nelly, Iskandar Z Siregar, Lina Karlinasari, dan Dede J. Sudrajat. “Keragaman Genetik Pertumbuhan Dan Hubungannya Dengan Penetrasi Pilodyn Pada Uji Provenansi-Keturunan Jabon (Neolamarkcia Cadamba (Roxb) Bosser) Di Parung Panjang, Bogor.” Jurnal Ilmu Teknologi Kayu Tropis 16, No. 2 (2018): 159–76.
Astiti, Ni Komang Ayu. “Sumber Daya Arkeologi Dalam Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Di Provinsi Maluku.” Jurnal Kapata Arkeologi 12, No. 1 (2016): 7–28.
Carpenter, Jon. “The Conservation of Iron Artefacts Recovered from the Marine Environment.” Dalam Shipwrecks Around The World: Revelations Of The Past, edited by Sila Tripati, 658–702. New Delhi: Delta Book World, 2015.
Dillenia, Ira, dan Luth Putu Ayu Savitri Chitra Kusuma. “Konservasi Sumberdaya Arkeologi Laut: Peluang Dan Tantangan.” Dalam Inovasi Dan Aplikasi IPTEK Kelautan Untuk Kemandirian Dan Kejayaan Bangsa, 75–82. Surabaya: Institut Teknologi Sepuluh November, 2009.
Florian, M.L.E. “The Underwater Environment.” Dalam Conservation of Marine Archaeological Object, edited by Colin Pearson, 1–20. London and Boston: Butterworths, 1987.
Hidayat, Taufik. Konservasi Material Logam Tembaga (Cu) Tinggalan Budaya Bawah Air. Universitas Islam Indonesia, 2018.
Julianto, S. Eko, dan Sulaiman. “Aplikasi Sistem Perlindungan Katodik Pada Kapal Tenggelam Sebagai Benda Cagar Budaya.” Jurnal Teknis 10,, No. 1 (2015): 37–45.
Mochtar, Agni Sesaria. “In-Situ Preservation Sebagai Strategi Pengelolaan Peninggalan Arkeologi Bawah Air Indonesia.” Jurnal Kalpataru 25, No. 1 (2016): 53–64.
Rahardjo, Supratikno. “Beberapa Permasalahan Pelestarian Kawasan Cagar Budaya Dan Strategi Solusinya.” Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur 7, No. 2 (2013): 4–17.
Robinson, W.S. First Aid for Underwater Finds. London: Archetype, 1998.
Rosana, Ellya. “Dinamisasi Kebudayaan Dalam Realitas Sosial.” Jurnal Al-AdYan XII, No. 1 (2017): 16–30.
Rukminasari, Nita, Nadiarti, dan Khaerul Awaluddin. “Pengaruh Derajat Keasaman (PH) Air Laut Terhadap Konsentrasi Kalsium Dan Laju Pertumbuhan Halimeda SP.” Torani: Jurnal Ilmu Kelautan Dan Perikanan 21, No. 1 (2014): 28–34.
Salmin. 2005. “Oksigen Terlarut (DO) Dan Kebutuhan Oksigen Biologi (BOD) Sebagai Salah Satu Indikator Untuk Menentukan Kualitas Perairan.” Jurnal Oseana XXX, No. 3 (2005): 21–26.
Spiridona, Petronela, dan Ion Sandu. “Conservation of Cultural Heritage: From Participation to Collaboration.” ENCATC Journal of Cultural Management and Policy 5, No. 1 (2015): 43–52.
Staniforth, Mark. The Prot Willunga Jetty. Willunga, 2016.
Stobart, B, S. Mayfield, C. Mundy, A.J. Hobday, and J.R. Hartog. “Comparison of in Situ and Satellite Sea Surface-Temperature Data from South Australia and Tasmania: How Reliable Are Satellite Data as a Proxy for Coastal Temperatures in Temperate Southern Australia?” Journal of Marine and Freshwater Research 67, No. 5 (2016): 612–25.
Suantika, I Wayan. “Sumberdaya Arkeologi, Peranannya Bagi Pembangunan Daerah Maluku.” Jurnal Kapata Arkeologi Edisi Khusus, (2017) : 7–28.
Tobing, S. Walsen P.L. Pertumbuhan Dan Kelulushidupan Udang Vaname Litopenaeus Vanname (Boone, 1931) Pada Salinitas 5 Ppt Dengan Kepadatan Berbeda. Universitas Lampung, 2019.
McDougall Vines. Willunga District Heritage Survey. Norwood, 1997
Yondri, Lutfi, Nina Herlina Lubis, dan Mundardjito. “Menggali Nilai-Nilai Luhur Masyarakat Masa Lalu Dari Tinggalan Budaya Materi: Studi Kasus Media Pengagungan Arwah Leluhur.” Jurnal Patanjala 8, No. 2 (2016): 139–54.

Downloads

Published

2020-06-30