Emulsi Sereh Wangi untuk Konservasi Cagar Budaya Berbahan Batu dan Bata

Authors

  • Sri Wahyuni Balai Konserbvasi Borobudur

DOI:

https://doi.org/10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v15i2.260

Keywords:

cagar budaya batu, lumut, lichen, emulsi sereh wangi

Abstract

Cagar budaya berbahan batu terletak di dalam ruangan maupun di luar ruangan sangat rentan terhadap kerusakan dan pelapukan. Kerusakan dan pelapukan pada cagar budaya dapat disebabkan oleh faktor internal yaitu material penyusun benda itu sendiri maupun faktor eksternal yaitu lingkungan benda itu berada. Jenis kerusakan dan pelapukan terdiri dari fisis, kimia dan biologi. Pelapukan yang terjadi pada cagar budaya berbahan batu akibat faktor biologi disebabkan oleh pertumbuhan ganggang/algae, lumut/moss, lumut kerak/lichen. cara mengatasi lumut selama ini dilakukan dengan pembersihan secara mekanis kering, mekanis basah dan bahan kimia menggunakan hyvar XL. Sedangkan untuk mengatasi lumut kerak/lichen secara kimiawi dengan menggunakan AC 322 terdiri dari ammonium bikarbonat, sodium bikarbonat, disodium salt EDTA, CMC, Arkopal dan air. pembersihan dengan cara mekanis kering dan basah tidak mengatasi pertumbuhan lumut karena bersifat hanya memindahkan spora tidak membunuh lumut. Sedangkan penggunaan bahan kimia seperti Hyvar XL dan AC 322 dapat mencemari lingkungan.

Bahan yang diuji sebagai bahan alternatif ramah lingkungan untuk membunuh koloni lumut dan lumut kerak/lichen adalah emulsi sereh wangi.  Emulsi sereh wangi terdiri dari minyak atsiri sereh wangi dan surfaktan tween 80. Variasi konsentrasi bahan yang diujikan yaitu 3%, 5%, 7% dan 10% dengan konsentrasi surfaktan tween 80 sebesar 5%. Pengujian bahan skala lapangan dengan cara penyemprotan bahan pada batu yang ditumbuhi koloni lumut dan lumut kerak/lichen.  Parameter yang diamati adalah pengamatan visual terhadap perubahan warna, nilai ΔE perubahan warna sebelum dan setelah dilakukan pengujian, dan dampak penggunaan emulsi sereh wangi 10%  pada batu segar.

Hasil pengujian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa penggunaan emulsi sereh wangi dapat menjadi bahan alternatif ramah lingkungan untuk membunuh koloni lumut pada cagar budaya berbahan batu. Bahan emulsi sereh wangi konsentrasi 3%, 5%, 7% dan 10% secara visual atau kualitatif dapat membunuh lumut dalam durasi kontak 24 jam dan  emulsi sereh wangi konsentrasi 5%, 7%, dan 10% dapat membunuh lumut kerak/lichen dalam durasi kontak 48 jam, dilihat dari perubahan warna lumut dari hijau menjadi kecoklatan dan layu mengering.  Sedangkan secara kuantitatif pengukuran perubahan warna dengan menggunakan alat kolori meter dilihat nilai LAB kemudian dihitung nilai ΔE dengan software colortool. Perubahan warna lumut setelah kontak 24 jam dengan emulsi sereh wangi konsentrasi 10%, dilihat dari nilai ΔE2000 sebesar 8,5721 sedangkan perubahan warna lumut kerak/lichen setelah kontak 48 jam denilai ΔE2000 sebesar 7,2063. Untuk mengetahui dampak penggunaan bahan terhadap batu bersih/segar, kontak dengan bahan selama 6 hari dilakukan pengukuran nilai ΔE2000 sebesar 3,4592, penggunaan bahan emulsi sereh wangi 10% tidak merubah warna batuan. Berdasarkan National Bureau of Standards GB7705-87 (National Institute of Standards and Technology), suatu benda dikatakan memiliki warna yang sama jika memiliki nilai ΔE ≤6.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Altieri, A and Ricci, S. 1997. Calcium Uptake in Mosses and its Role in Stone Biodeterioration. Elsevier Science Limited. V. ol. 40. No. 24 (1997) 20 I-204

Croci, Giorgio.1989.The Conservationand structural Restoration of Architectural Heritage, Computational Mechanics Publication Southmpton, UK and Boston, USA.

De los Ríos, A., Ascaso, C., 2005. Contributions of in situ microscopy to the current understanding of stone biodeterioration. Int. Microbiol. 8, 181e188.

De los Ríos, A., Perez-Ortega, S., Wierzchos, J., Ascaso, C., 2012. Differential effects of biocide treatments on saxicolous communities: case study of the Segovia cathedral cloister (Spain). Int. Biodeterior. Biodegrad. 67, 64-72.

Kumar, Rakesh and Kumar, Anuradha. 1999. Biodeterioration of Stone in Tropical. Environments. The Getty Conservation Institute.

Ketaren, S. 1985. Pengantar Teknologi Miinyak Atsiri. Balai Pustaka, Jakarta

Prescott, L M, Harley JP, Klern D A. 1999. Microbiology 4th ed. The MC Grow Hill, USA

Sastrohamidjojo, H. 2002. Kimia Minyak Atsiri. FMIPA Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta

Wahyuni, Sri, dkk. 2015. “Laporan hasil Kajian Minyak Atsiri untuk Cagar Budaya Batu Tahap I”. Balai Konservasi Borobudur

Wahyuni, Sri, dkk. 2016. “Laporan hasil Kajian Minyak Atsiri untuk Cagar Budaya Batu Tahap II”. Balai Konservasi Borobudur

Downloads

Published

2021-12-31